WONOSOBO – Desa Kadipaten Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo menjadi pilihan Kuliah Kerja Nyata (KKN) beberapa mahasiswa kelas Cakra Inti Universitas Tangerang Raya. Ditemui di rumah kediaman saat bersilahturahmi dan memberikan surat pemberitahuam KKN dari Kampus UNTARA, Kepala Desa Kadipaten Heri Basuki menyambut baik kehadiran mahasiswa Universitas Tangerang Raya. Sabtu (15/02/2025).
Deddi Fasmadhy , Yuda Widodo, Hendrawan, Muntako, didampingi Dosen Pembimbing Lapangan Dadah Muliansyah melaksanakan KKN di Desa Kadipaten dengan mengangkat isu Pengelolaan sampah berbasis komunitas di Desa Kadipaten, Kabupaten Wonosobo.
Tatag Sekdes Kadipaten bersama beberapa perangkat desa saat diskusi bersama Mahasiswa Untara peserta KKN mendengarkan dengan seksama apa yang akan dilakukan para Mahasiswa Untara tersebut.
" Desa Kadipaten Dikatakan ini telah menunjukkan kemajuan yang signifikan, tidak hanya dalam hal kesadaran masyarakat, tetapi juga dalam pengelolaan yang lebih terstruktur. Berdasarkan temuan penelitian kami, kebaruan dalam teori pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat dikembangkan dengan mengintegrasikan beberapa perspektif dari teori-teori yang kami ajukan atas konsep yang telah disusun oleh Yuda Widodo, Hendrawan, Muntako, dan Dadah Muliansyah. Setiap teori dalam hal ini memberikan sumbangan yang berbeda, yang jika digabungkan dapat menghasilkan model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang lebih efektif dan berkelanjutan." Tutur Deddi.
Beberapa konsep dalam presentasi yang ditawarkan ke Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo dijelaskan Deddi sebagai berikut :
1. Pendekatan Multistakeholder dalam Pengelolaan Sampah dikenal dengan Teori Yuda Widodo Multistakeholder
Yuda Widodo menekankan pentingnya partisipasi aktif berbagai pihak dalam pengelolaan sampah. Dalam teori ini, pandangan yuda widodo pada pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau masyarakat, tetapi juga melibatkan sektor swasta dan lembaga non-pemerintah. pada pengusulan good governance yang memfokuskan pada kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak-pihak terkait lainnya. Penelitian di Desa Kadipaten mengilustrasikan bahwa kerjasama yang erat antara pemerintah desa, organisasi lokal, dan masyarakat dapat memperkuat keberlanjutan program pengelolaan sampah berbasis komunitas. Kolaborasi ini memungkinkan setiap pihak memiliki peran yang jelas dan menyumbangkan keahlian serta sumber daya yang diperlukan untuk kesuksesan program.
Integrasi pengelolaan sampah berbasis komunitas dengan model multistakeholder yang lebih terstruktur dan transparan. Kolaborasi yang terorganisir ini memungkinkan terciptanya program yang lebih efektif, di mana peran setiap pihak ditentukan dengan jelas dan memiliki tanggung jawab yang saling mendukung.
2. Model Pengelolaan Sampah dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat atau Teori Hendrawan PSPEM
Teori PSPEM Hendrawan berfokus pada pemanfaatan sampah sebagai sumber daya yang dapat memberikan nilai ekonomi. Pengelolaan sampah berbasis komunitas tidak hanya dimaksudkan untuk mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dalam penelitian di Desa Kadipaten, sampah organik berhasil diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik didaur ulang menjadi produk bernilai ekonomi seperti kerajinan tangan dan bahan bangunan. Pendekatan ini sejalan dengan teori Hendrawan yang melihat sampah sebagai potensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi lokal.
Penekanan pada pengolahan sampah menjadi produk ekonomi yang tidak hanya mengurangi dampak sampah, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Pengelolaan sampah yang berbasis pada pemberdayaan ekonomi ini membantu menciptakan keberlanjutan program melalui manfaat langsung yang diterima oleh masyarakat.
3. Sistem Pengelolaan Sampah Berkelanjutan atau Teori PSB Muntako
Menurut Muntako, pengelolaan sampah yang berkelanjutan PSB harus memperhatikan aspek sistematis yang melibatkan seluruh siklus pengelolaan sampah, mulai dari produksi, pengumpulan, pemilahan, hingga pengolahan akhir. Meskipun Desa Kadipaten telah berhasil dalam hal pemilahan dan daur ulang sampah, tantangan terbesar adalah keterbatasan fasilitas pengolahan sampah yang memadai. Muntako berargumen bahwa sistem pengelolaan sampah harus bersifat adaptif dan fleksibel, sesuai dengan kondisi lokal dan harus didukung oleh infrastruktur yang memadai. Di Desa Kadipaten, meskipun ada upaya signifikan dalam pemilahan sampah, tantangan terkait infrastruktur dan fasilitas pengolahan masih perlu diatasi.
Penerapan sistem pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan yang disesuaikan dengan kondisi lokal. Sistem ini tidak hanya mengandalkan pemilahan dan pengolahan tradisional, tetapi juga memperkenalkan inovasi teknologi yang dapat mempermudah pengelolaan sampah pada tingkat komunitas.
4. Pentingnya Sosialisasi dan Edukasi Berkelanjutan atau Teori SEB Muliansyah
Muliansyah menyoroti pentingnya sosialisasi dan pendidikan lingkungan yang berkelanjutan sebagai elemen kunci dalam keberhasilan program pengelolaan sampah. Dalam masyarakat dengan kesadaran lingkungan yang rendah, sosialisasi yang intensif dan berkelanjutan sangat penting untuk memastikan konsistensi dalam penerapan praktik pengelolaan sampah. Penelitian di Desa Kadipaten menurut Muliansyah dadah menunjukkan bahwa sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah desa dan organisasi lokal berperan besar dalam menciptakan rasa kepemilikan masyarakat terhadap program tersebut. Proses edukasi yang berkelanjutan membantu mendorong perubahan perilaku yang lebih permanen dan konsisten.
Menekankan pentingnya pendidikan lingkungan yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan ini tidak hanya dilakukan pada tahap awal, tetapi harus diteruskan agar masyarakat dapat secara konsisten menerapkan praktik pengelolaan sampah dalam kehidupan mereka.
Di hari ke 3 KKN para mahasiswa Untara mengikuti kegiatan kerja bhakti Nyadran (Bersih Desa dan kirim doa untuk leluhur) yang merupakan tradisi di Masyarakat Kadipaten jelang memasuki Bulan Suci Ramadhan.
Mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Tangerang Raya (UNTARA) di Desa Kadipaten pada akhir KKN berpamitan dengan Kepala Desa dan Parangkatnya dengan memberikan kenang-kenangan berupa Plakat Piagam dan MUG KKN UNTARA. Senin (24/02/2025).
" Terima kasih atas penerimaan dan sambutan yang luar biasa penuh semangat atas kegiata KKN UNTARA di Desa Kadipaten ini, semoga apa yang kami sampaikan bisa menambah kemajuan Desa Kadipaten. Dan kami mohon maaf bila dalam kegiatanm KKN yang kami laksanakan merepotkan dan kurang sopan santun, namun kami senang Masyarakat disini ramah-ramah dan pemudanya sangat Cerdas dalam menangkap konsep-konsep kami dengan adanya pembagian tugas untuk pemuda-pemuda dalam melaksanakan konsep-konsep kami." Ucap Yuda Mahasiswa UNTARA peserta KKN.
Sementara Dadah Muliansyah selaku Dosen Pembimbing Lapangan saat ditanya awak media terkait KKN mahasiswa UNTARA di Desa Kadipaten menegaskan,
" Mahasiswa peserta KKN di Desa Kadipaten ini adalah Mahasiswa UNTARA Fakultas Hukum yang sudah banyak pengalamannya, mereka semua sudah biasa melakukan kegiatan bersama Masyarakat. Dan mahasiswa di angkatan ini adalah mahasiswa ekstensi non regular yang lahir dimasa Covid-19, jadi mereka semua ada yang dari kalangan karyawan swasta, ASN, TNI, Polri, Wiraswasta, politikus, dan sebagainya. Dengan Kegiatan KKN diharapkan Konsep matang dari mahasiswa UNTARA ini bisa diserap dan dijadikan peluang yang baik dan memberikan manfaat serta kemajuan di desa Kadipaten. " tutup Dadah.
(Yudhi)
0 comments:
Posting Komentar
Hanya pesan membangun